TENTANG RIWAYAT PILU KAUM PEREMPUAN
Dari Pentas Tari Okty Budiati
SESOSOK tubuh terbalut kain putih tengah bersujud ke arah timur, menirukan salah satu gaya yoga. Ia bersujud dengan punggung rata bagaikan sebilah anak panah yang terentang dalam busur. Ia diam selama beberapa menit, barangkali sedang bermeditasi, barangkali sedang menyelaraskan detak jantungnya dengan degup jiwa semesta. Musik dengan bunyi-bunyian yang minim mengalun lembut, terdengar seperti suara tangis dan gumam sedih. Beberapa saat kemudian ia bergerak, menggeliat pelan.
Di tembok, di bawah sorotan temaram cahaya lampu, tubuh perempuan itu mencetak bayangan seekor kucing yang melengkungkan punggungnya. Lalu, ia mulai berdiri, berputar dari sisi kiri, berkeliling khusyuk di atas bulatan setinggi 30 sentimeter dan berdiameter 1,5 meter, yang sekaligus berfungsi sebagai pentas. Ia berkeliling, menyeret langkah menandai ruang sempit yang melingkungi dirinya, ranah sepi yang bergolak mencipta kelimun hikayat tempat ia berharap bisa menemukan sejumput jawab bagi selaksa tanya yang menggedor benak, yang sekiranya dapat meretaskan sepercik kebahagiaan. Ia berkeliling, seolah mengeja lungsuran perasaannya demi melebur anasir delapan penjuru mata angin ke dalam desir tubuhnya. Sebab, ia sesungguhnya adalah ibu yang setia merawat setiap jengkal tanah dan aliran makna kehidupan umat manusia.
Itulah awal pertunjukan Okty Budiati di Kedai Kebun Forum, Jalan Tirtodipuran 3 Yogyakarta, 11 Juni 2005, yang mengusung tajuk Fragile. Koreografer dan penari kelahiran Jakarta 13 Oktober 1977 yang kini menetap di Yogyakarta itu, belajar balet sejak umur empat tahun dan kemudian mengasah teknik koreografinya di antaranya pada Kreativity Kontemporer Jakarta, Miroto Dance Company Yogyakarta dan Padepokan Lemah Putih Surakarta.
Dalam Fragile tak ada gemuruh musik, tak ada gempita bunyi-bunyian. Yang ada hanyalah lengking tipis alat tiup, suara gumaman dan senandung lirih yang sering terdengar pada tarian tradisional. Tak ada juga desain panggung yang ramai.
Di panggung, sementara itu, tebaran kembang melentingkan aroma khas lazimnya aroma sesajen yang bercampur bau dupa. Semilir angin terasa menyapu ruangan. Sungguh, saya merasa seakan berada di suatu tempat di mana sebuah ritual kudus sedang digelar. Memang, kekudusan di sini tak berpaut dengan sebuah prosesi keagamaan, tetapi berkelindan dengan sesuatu yang lain: keteguhan seorang perempuan untuk mengkhidmati tragedi meski dengan itu ia harus berkorban, hidup dengan hati dan jalinan makna yang rapuh.
Mungkin karena bertolak dari kisah tentang diri yang rapuh dan dipiuh perih, Okty tidak begitu banyak mengumbar gerak. Ia ingin meletakkan tubuh dan gerak dalam dekorasi kesadaran yang terbungkus lelaku hening, kombinasi antara keterjagaan raga dan hasrat untuk lindap ke dalam kesunyian sukma. Paling tidak, bagian pertama dari lakon ini, yang berjudul “Aku Berkaca di Telaga”, membuktikan hal itu. Telaga: selingkar kubangan yang dalam dan luas penuh air, metafora tentang ceruk tempat perempuan berkaca hanya untuk memastikan bahwa ada yang tetap perlu diperjuangkan di tengah gempuran rasa cemas dan sayatan sembilu di lekuk hati, bahwa tak ada yang sia-sia walau air mata dukacita terus tumpah dan nyanyian harapan melulu mewujud berupa gema di labirin nasib yang hampa. Itu sebabnya perempuan tak punya pilihan selain menjadi, saya kutip dari brosur pementasan, “putaran kabut dengan daya gelora yang menggumpal dalam sekam”.
Benar, Okty memendam sebuncah gebalau, sehimpun gejolak yang semula menggumpal dalam sekam namun tiba-tiba meruyak ketika resah telah mencapai titik di mana diri mesti bertarung untuk meraih sesuatu yang luhur, di mana diri harus menjelma menjadi kisaran badai, sehingga dengan begitu terlempanglah jalan untuk menerjang segenap rintangan dan belenggu. Tak heran, pada bagian kedua, “Terjadinya Resah”, Okty meruahkan sekian gerak yang menghentak, tubuh yang mengempaskan beban, untaian kemelut yang memicu rasa gundah. Ia meliukkan tubuhnya, menghadap ke utara, meregangkan kedua kaki, memasang kuda-kuda dengan dua tangan menjulur lurus ke depan layaknya pendekar silat yang menghimpun energi. Selanjutnya, dalam gerak yang amat luwes, ia berbalik ke arah barat, menggerakkan tangan dengan halus sembari menyelipkan irama patah-patah Bali.
Rasa gundah terus berlanjut. Geliat raga terus berlangsung. Waktu terus beringsut, menggugurkan bunga-bunga, merangkai kisah-kisah di setiap pergantian musim. Saat itulah tubuh mengarus dalam bara, melumat gigil yang membekukan tulang-tulang. Tubuh mengarus dalam bara dan kemudian menjelma menjadi api, membakar segala yang ada di sekeliling. Di bagian ketiga yang berjudul “Tubuh Menjelma Api” ini, hentakan tubuh Okty kian menggila. Ada saat ketika Okty berputar-putar serupa sufi yang membawakan tarian darwis, yang mati-matian berupaya mencapai puncak ekstase, memasrahkan tubuh untuk disedot oleh pusaran buana. Gerak menjadi kanal untuk sebuah katarsis, jalan keluar dari kepenatan batin. Dan lihat, Okty, dalam putaran yang menggila itu, mendadak menjatuhkan diri, terlempar dari pentas. Lantas, sambil merayap, ia kembali naik ke atas pentas lewat sisi utara, berdiri menghadap ke timur, dengan wajah sedikit mendongak. Suara gumaman kembali terdengar, semakin menebalkan keperihan yang mengunggun. Sebuah momen yang mendamparkan ingatan saya pada syair milik sufi masyhur Jalaluddin Rumi: “Api roh telah mengangkat kepalanya dari jasad bumi.”
Di akhir pertunjukan, Okty bersimpuh, tampak pasrah, seolah mengirimkan pijar keajaiban perempuan yang ikhlas menerima tragedi, yang bersetia kepada kodrat.
***
PENTAS ini cuma berlangsung sekitar 30 menit. Kendati demikian, aliran makna yang terpapar cukup padat. Lewat lakon ini Okty bertutur perihal kepedihan perempuan, setakik luka yang diciptakan oleh kekuasaan laki-laki yang terbentang panjang dalam arus sejarah manusia. Ia berbicara dengan suara yang tak berseru lantang. Sejenis feminisme yang sadar diri, yang mensublimasikan keruwetan riwayat pilu perempuan (cukup) lewat metafora yang berporos pada tubuh, pada segelombang gerak estetis.
Okty, percayalah, sekadar mendedahkan kembali ikhtisar dari maklumat purba ini: kenanglah perempuan dengan setumpuk kerinduan dan cinta.
Selengkapnya...