Atas Nama Fiksi
Orang asing itu, di sebuah kuil yang telah dilahap api purba, yang dewatanya tak lagi menerima pemujaan manusia, membaringkan diri dan tidur. Dia tahu bahwa tugasnya kini adalah bermimpi. Mula-mula, mimpinya hanya berupa gebalau; lalu, selang beberapa waktu, berangsur-angsur menjadi teratur. Orang asing itu bermimpi sedang berada di tengah sebuah teater terbuka berbentuk lingkaran; sekerumun murid duduk di bangku-bangku yang berderet panjang. Ia sangat teliti menimbang murid-muridnya, mencari satu jiwa yang pantas disusupkannya ke alam nyata.
“LINGKARAN Reruntuhan” (Jorge Luis Borges, Labirin Impian, LKiS Yogyakarta, 1999) mengisahkan ilusi yang membaluri kenyataan hingga menyentakkan “orang asing” pada pemahaman bahwa di tengah sengkarut mimpi, dalam hasrat mencari seseorang di antara kerubungan murid yang layak diselundupkan ke alam nyata, dirinya juga tak lebih dari sesosok makhluk impian orang lain, merupakan salah satu prosa yang mengukuhkan kepiawaian literer Jorge Luis Borges.
Lahir 24 Agustus 1899 di Buenos Aires, Argentina, ada banyak hal yang dapat dikenang dari begawan sastra ini: bocah ringkih berkaca mata minus yang pada usia 6 tahun mulai menulis cerita-cerita fantastis yang diilhami Miguel de Cervantes, dan tiga tahun kemudian menerjemahkan “The Happy Prince” Oscar Wilde ke dalam bahasa Spanyol, yang dimuat di surat kabar lokal El País, dengan menerakan nama “Jorge Borges”, membuat banyak orang menganggap itu karya ayahnya. Lelaki pemalu yang lahir dari rumpun keluarga yang unik. Kakeknya dari jalur ayah, Kolonel Francisco Borges, menikahi perempuan Inggris dari Staffordshire bernama Francis Haslam, sehingga dia dan kedua orang tuanya, Jorge Guillermo Borges dan Leonor Acevedo de Borges, pun membaca dan menulis dalam bahasa Inggris di kawasan Argentina yang berbahasa Spanyol. Ibunya, perempuan ulet keturunan pejuang kemerdekaan yang berangan-angan mengelilingi dunia bersamanya. Ayahnya, seorang pengacara dan guru psikologi, nasionalis tulen yang pernah suatu waktu mengajarinya filsafat dengan menggunakan papan catur untuk menerangkan paradoks Zeno. Selain Norah, adik perempuannya, Borges memiliki kawan bermain khayali, yang mereka bayangkan mencelat dari buku lalu menghabiskan waktu bersama mereka di labirin perpustakaan dan taman, dua imaji yang kelak terus berinkarnasi dalam prosanya.
Impresi
Keras kepala untuk terus membaca dan menulis, selain mengajar dan memberi ceramah, Borges melahirkan karya-karya impresif yang turut menentukan lanskap sastra dunia dan memengaruhi banyak penulis kondang namun anehnya luput dari ganjaran hadiah Nobel Sastra.
“Perpustakaan Babel” Borges misalnya, menggiring persepsi orang kepada biara, mikrokosmos bertembok tinggi yang melingkungi Adso, William Baskerville dan rahib lainnya dalam novel The Name of the Rose Umberto Eco. Para rahib yang tunduk kepada kewajiban suci memerangi nafsu badani, berkhalwat menyimak hiruk-pikuk perubahan dan eskalasi pengetahuan di dunia luar melulu melalui buku. Novel lain Eco, Foucault's Pendulum, ikut terimbasi strategi tekstual Borges berwujud informasi teks yang berlapis-lapis, siasat metaforis dan guncangan-guncangan filosofis yang merupakan kekuatan “Perpustakaan Babel”. “Mukjizat Rahasia” dan “Taman Jalan Setapak Bercecabang” pun merupakan perigi tempat Eco mendulang inspirasi.
Salman Rushdie dan Jose Saramago, menurut kritikus Christopher Rollason, juga termasuk penulis yang terpengaruh oleh Borges. Novel epik Rushdie yang terbit di tahun 1999, The Ground Beneath Her Feet, sebagaimana prosa Borges “Taman Jalan Setapak Bercecabang” dan “Pierre Menard, Pengarang Don Quixote”, bercerita perihal buku dan pengarang imajiner. Bahkan, Departemen Statistik Hidup yang menjadi seting novel All the Names Saramago sungguh menyerupai perpustakaan Borges, meski isinya bukan buku namun arsip-arsip birokrasi yang kerontang berdebu: itu jelas-jelas mengalurkan satu perspektif diri tak berkesudahan.
Wajar apabila Borges kemudian menjadi ikon sastra yang dijejali madah dan tabik lantaran membenihkan kekaguman di benak khalayak pembaca. Tulisan-tulisannya – ficciones, prosa mini separuh esai – merupakan bentuk ekspresi literer yang mengkonstruksi pengalaman intim manusia lewat bauran maujud-maujud fiksi dan nonfiksi. Dengan menggotong kekuatan aksentuasi metafora, Borges telah mendongkrak kasta sastra sehingga tak lagi berada di bawah filsafat dan sains.
Takdir
Filsafat dan sains, dua aras ilmu yang memperlihatkan pencapaian yang menakjubkan dari intelek manusia. Dua aras yang dengan keangkuhan masing-masing membawa klaim ketangguhan akal. Orang tidak mudah lupa bagaimana cogito, ego metafisis René Descartes yang melecehkan relasi organisme yang holistis itu, mengaksiomakan rasio selaku acuan tunggal dari ragam penciptaaan arti kosmos. Eksistensi jagat raya diperikan lewat metode analitis hingga tercabik menjadi struktur mesin yang mekanistis.
Immanuel Kant, kita tahu, mengiktikadkan parameter keabsahan tendensi pengetahuan selamanya di bawah kendali akal. Kritik yang berpumpun pada sintesis transendental itu mengandaikan abstraksi filosofis yang ajek, konsistensi logis dari kriteria formal kebenaran.
Sejarah modern – yang dalam War and Peace oleh Leo Tolstoy dicemooh “like a deaf man, answer question no one has asked”, serupa orang tuli yang menjawab soal yang tak ditanyakan orang – meretas dari impian akbar semacam itu. Identifikasi sukma yang gandrung pada penaklukan atas alam. Aufklarung. Alur peradaban yang begitu menggilai humanisme. Digerayangi damba akan akal budi yang kudus, hantu Logos yang genit berevolusi menuntut riwayat teleologis manusia.
Tetapi badai posmodernisme telah menumbangkan proyek rasio, mengguratkan takikan luka yang masygul di jantung modernisme. Menjadi saksi atas reruntuhan yang tragis: khatam sudah wiracarita tentang kemegahan sang hero. Di depan mata berserakan kerumunan tilas modernitas, puing-puing ontologis. Relativisme menjarah seantero arah, menebarkan kehancuran fondasi epistemologi dari segenap diskursus kebenaran hasil rancangan cogito. Narasi agung, metawacana, sekadar bualan homologis para ahli. Karena sesungguhnya yang hadir saat ini ialah paralogi para pencipta. Alhasil, pembacaan tak lagi menggemakan representasi pasti dari verifikasi yang matematis, melainkan keasyikan semiotis gairah bahasa, buncahan-buncahan citra yang fragmentaris.
Tatkala pengembaraan akal mentok di ufuk terujung yang sanggup ditaksir ilmu pengetahuan, maka sebersit sikap tawaduk niscaya bergaung di situ. Sesungguhnya ada fragmen lain dari kehidupan yang mesti diselami manusia dengan tubuhnya. “Tulisan Tangan Tuhan” Borges merekam, “Seorang manusia, lambat laun, menjadi bingung akan rupa takdirnya; seorang manusia, pada akhirnya, adalah apa yang langsung dialaminya.” (Marina Martin dalam “Borges, The Apologist for Idealism” memetakan Borges selaku pemikir yang terpengaruh idealisme, aliran filsafat yang membabar dunia sebagai konstruksi mental yang terikat oleh kognisi perseptual. David Hume, eksponen sejati idealisme menurut kategori Borges, meyakini “identitas, yang kita nisbahkan kepada pikiran manusia, hanyalah sebuah fiksi,” dan Borges juga mengiyakan hal itu. Walau demikian, Borges ingin melampauinya dengan bergerak ke arah idealisme panteistis seperti yang disuarakan filsafat Timur dan Schopenhauer. Mencuatkan pengorbanan mistis untuk menyeret laku tubuh menuju kekosongan, menjadi sunyata: subjek yang menghapus identitasnya sendiri ketika lingkungan bahasa goyah menampung gebalau kepingan-kepingan pengalaman, dan ketika gelegar aksi signifikasi tidak memadai lagi).
Gaston Bachelard, yang menampik konsep Cartesian tentang totalitas kebenaran ilmiah, menegaskan bahwa rumusan matematis menjadi bermakna justru ketika disertai keinginan mengakrabi pengalaman nyata tubuh. Dan adalah metafora yang dihidupi imajinasi menyediakan perangkat material untuk mendekati kenyataan itu. Untuk itu, Bachelard yang telaahnya perihal imajinasi lebih dekat kepada Carl Gustav Jung ketimbang kepada Sigmund Freud, di lembaran-lembaran bukunya meluangkan pengakuan terhadap “karakter imajinasi kreatif yang fundamental secara psikis”. Proses individuasi melanggengkan beberan-beberan imajinasi sebagai dunia mandiri, yang menutup pintu terhadap ancar-ancar saintisme yang hendak menyusun ketepatan arah kenyataan. Ada khayalan setengah sadar menata segenap potensi spesies manusia untuk memproyeksikan karya luhur yang kelak membangkitkan kebudayaan, arena tempat keacakan sejarah terkukuhkan.
Tentu saja, manusia senantiasa bakal direpotkan oleh upaya menghibur diri ketika syahwat akan kepastian membarengi kenyataan yang mengelak untuk dicengkeram. Benarlah pengakuan rendah hati Hamlet, tokoh lakon karya William Shakespeare: kenyataan di langit dan bumi lebih kaya dari impian filosofis manusia.
Gema Replikasi
Pemahaman atas ketiadaan yang sunyi dari unggunan riuh hasrat hidup, kemusnahan identitas personal oleh gerusan relasi kosmologis yang beruntai tak kunjung habis, mendera Borges untuk memandang “ketakberhinggaan selalu berupa kisah serial, sebuah gema replikasi”. Gema replikasi dikiaskannya melalui citra cermin, repetisi memusingkan yang menjelajah sampai ke gurun gagasan tanpa akhir, memburaikan keterpukauan estetis, di mana luapan kemungkinan menggelontorkan ketegangan sublim identitas: hikayat perihal negasi dan afirmasi diri yang silih berganti terus-menerus. Selarik sajak “The Mirrors” mengisahkan bagaimana Borges “diguncang kengerian di hadapan semua cermin”. Keterpukauan semacam itu juga menggoda Borges -- sebagaimana terpaparkan dalam sajak “The Art of Poetry” -- untuk memperlakukan seni laksana cermin.
“Tlön, Uqbar, Orbis Tertius” menuturkan penemuan atas Uqbar, satu negeri yang dirangkum kedahsyatan dua wilayah khayali bernama Mlejnas dan Tlön, dari mana sastra bercorak fantasi dan epik serta legenda-legenda semarak tercipta. Pertalian antara sehelai cermin dan sejilid ensiklopedia memicu penemuan itu. Namun, cermin bukan satu-satunya imaji yang mewadahi gerak sirkularitas kosmologi. Imaji lainnya adalah perpustakaan.
Perpustakaan, tempat penuh “deretan buku berbahasa Inggris yang tak berhingga”, ruang yang memberi Borges rasa betah kognitif, keriangan mengarungi khazanah kesusastraan dunia. Ruang yang menyediakan banyak celah untuk memaknai Argentina, atau diri yang diamuk ekstase pengetahuan, sebagai kawasan marjinal yang digerakkan oleh denyutan lirih sebuah keheningan. Zona periferal yang menghajatkan kemerdekaan mengocok makna yang dikonvensi nalar publik, serta mempersoalkan realitas yang telanjur dihegemoni pusat bernama Spanyol. Berada di perpustakaan, Borges mafhum bahwa tautan simetris dirinya dan deretan buku bagai satu jalinan ganjil yang noktah pamungkasnya melulu berbentuk sensasi yang liar: imajinasi.
Imajinasi itu pula yang menolong kita untuk menggarisbawahi keyakinan Borges atas watak fiktif pengetahuan yang mengkonstitusikan jagad ini. Segalanya berselimut fiksi, dan sastra mengisbatkan waktu yang awal dan akhirnya tidak mudah dipastikan, sehingga ruang pun menjadi penggalan-penggalan delusi manusia. Hanya kekinian yang nyata, dan senantiasa meledak dengan mengacu kepada dirinya sendiri.
Wilayah reflektif perpustakaan yang mahaluas, pusaran ide yang sahut-menyahut, serempak mengkristalkan makna pada ceruk tanda tanpa dasar. Habluran metaforis sebuah labirin yang menawarkan kenyamanan intertekstualitas semesta, tempat orang mendapati pantulan dirinya pada karya orang lain, lebur menjadi bagian dari satu keseluruhan. Kita “tak bisa berpikir lain kecuali membayangkan sejilid buku melingkar, sebuah buku yang halaman terakhirnya persis sama dengan halaman pertama, sebuah buku yang memiliki kemungkinan bersinambung tanpa kesudahan” (“Taman Jalan Setapak Bercecabang”).
Pemerian ontologis alam raya yang diandaikan hanya mewujud bila direpresentasi subjek yang meruyak dari jejeran lain di seberang sana, menjadi ocehan kosong yang menggelikan. Sebab kalaupun orang masih ngotot mengharapkan teks yang terpapar logis, toh tetap saja merekah sekelimun kebalauan, sehimpun ketidakpaduan, yang menyisakan jejak parsial bahasa individu. Percuma memimpikan koherensi, karena teks, termasuk realitas yang memperoleh status tekstualnya lantaran dikonstruksi bahasa, tak henti-henti diinterupsi sederet koma, dan menemukan arti setelah bertemu dengan pembacanya. Sehingga Borges, dengan begitu, mengupayakan dalil yang mirip dengan rumusan Hans-Georg Gadamer perihal fusi horizon teks dan pembaca. Lingkaran hermeneutis yang menjelmakan bahasa menjadi teks, menyentuh kita lewat kekariban yang syahdu. Makna tak berdiri di luar fusi cakrawala teks dan pembaca. Sementara pembaca adalah individu-individu yang dipampangi riwayat biografis yang majemuk. Lalu, di mana kepatutan ambisi meraup objektivitas hermeneutika terhadap teks?
Di sini, membuncah serangkai perdebatan sengit tentang bagaimana menakwilkan peran manusia selaku subjek semiologis. Kita jadi ingin bertanya, siapakah sebenarnya manusia. Insan yang diam-diam menggerogoti kekuasaan Tuhan agar leluasa menyusun sejarah sendiri? Makhluk yang melintasi waktu dan ruang dengan perasaan terkesima yang digelorakan oleh keajaiban nalar dan ketelatenan observasi sains? Insan yang melalui tulisan sekadar mengutuhkan ingatan demi keabadian waktu, kendati tetap tak luput dari pertanyaan mendasar seputar kapasitas ontologis diri di hadapan karya?
Manusia, cermin, perpustakaan, semesta. Ada mata rantai yang menyorongkan ketakjuban perenial atas untaian kosmologis: karnaval yang tidak menyedot sang-lain ke dalam keseragaman yang kohesif. Kemajemukan yang kait-mengait. Rantai semiosis tak berkesudahan.
Biografi
Tetapi biografi Borges tidak cuma menyangkut inspirasi yang merembesi banyak penulis mutakhir. Selain menyerap khazanah sastra Inggris, Jerman, Perancis dan Spanyol, ziarah literer Borges juga tersusupi pengaruh dari Arab dan Persia. “Ibn Hakkan al-Bokhari, Mati di Dalam Labirinnya Sendiri”, misalnya, dibuka dengan nukilan atas ayat Quran untuk merentangkan metafora dari inti narasi yang hendak direngkuhnya. Soal sejenis juga meruah dalam “Pendekatan terhadap al-Mu’tasim”, cerita tentang novel Mir Bahadur Ali, pengacara dari Bombay -- yang sudah pasti cuma ada dalam khayalan Borges; menyuratkan betapa dia tak rikuh memadukan fakta dan fiksi – yang berada di bawah bayang-bayang Mantiq ut-Thair (Musyawarah Burung), karya besar sufi penyair Fariduddin Attar. Sementara itu di ranah lain, “The Simurgh and the Eagle” adalah tulisan di mana Borges mempersekutukan Attar dengan Dante.
Seturut catatan Eric Ormsby dalam “Jorge Luis Borges & The Plural I”, Borges dengan ketakziman yang khusyuk mengasimilasikan ke dalam dirinya tradisi dan motif Islam. Setahun sebelum kematiannya, di usia 86 tahun, dia mulai mempelajari pengetahuan Arab klasik dari seorang guru pribadi asal Mesir yang dijumpainya di Jenewa. Kendati tutorial tersebut lebih disulut hasrat agar dapat membaca Alf Laylah wa-Laylah (Kisah Seribu Satu Malam) langsung dari bahasa Arab, tetapi sebenarnya itu merupakan klimaks dari minat yang sudah dipendamnya bertahun-tahun.
Dalam “Averroës’ Search”, yang oleh Ormsby didapuk “salah satu yang paling menggetarkan di antara fiksi-fiksi Borges”, Borges menyinggung Ibnu Sida -- bukan Ibnu Sina atau Avicenna -- seorang Muslim Spanyol ahli filologi Arab terkemuka abad ke-11 yang terpaksa mengandalkan imajinasi, melupakan aksara, lantaran disergap oleh kebutaan.
Merancang Mimpi
Suatu kesengajaan jika Borges merancang mimpi menjadi model pokok penceritaan kembali kenyataan. Banyak prosanya mendedahkan kemuskilan untuk memancang dunia yang benar-benar bersih dari mimpi.
Pada mimpi versi Borges, segalanya hadir tidak melalui obsesi melempangkan jalan keluar yang berasaskan kesahihan rasional dengan ego narsistis sebagai pangkal kesadaran. Orang bersua dengan teka-teki kosmis, sebab “hidup kita cuma secercah ingatan redup, rusak dan keliru atau seberkas pantulan dari suatu proses tak terulang”. Manusia tersungkupi misteri yang menggelembungkan imajinasi hingga ke titik yang mampu menghadirkan imaji, di mana arketipe tersublimasi dan memperoleh raganya. Carl Gustav Jung, pendiri mazhab Psikologi Analitis, menyodorkan takrif mimpi yang jumbuh dengan mimpi dalam prosa Borges. “Mimpi merupakan sebuah pintu kecil yang tersembunyi dalam batin dan tempat semayam yang paling rahasia dari psike, pintu masuk ke dalam malam kosmis… Mimpi kita menunjukkan kesamaan dalam manusia; manusia yang mengalami kegelapan malam purba… Betapapun mimpi ini kekanak-kanakan, ganjil, dan buruk.”
Rekayasa imaji menyulut khalayak untuk percaya bahwa kenyataan terbit lebih sebagai alur peristiwa yang tumpang-tindih, sirkuit narasi yang rumpang. Bukan arsitektur yang simetris dan kukuh. Bukan totalitas benda yang tertata apik. Imajinasi mencecarkan hasrat untuk mensublimasikan mimpi sebagai kenyataan itu sendiri. Kita adalah Adam yang berkat imajinasi memergoki jagat raya tak lebih dari bentangan koyak berlumur fiksi hampa. Semacam komik kosmis Italo Calvino.
Mimpi, pola kisahan yang diusung Borges untuk menegaskan ritme kebalauan realitas dan kepelikan psike itu, menyurukkan manusia ke dalam geometri acak, jaringan fraktal yang tidak mengandung gaung resiprokal. Waktu hadir dalam kepenuhannya yang konkret. Alih-alih tergebyarkan oleh diktum filosofis, waktu justru merogoh rupa lewat pengalaman yang empiris; meletupkan subtilitas yang serentak. Hubungan nonkausal melimburkan momen yang bertabiat spontan dan menubuhkan psike di tempat yang berbeda-beda. Jung mengistilahkannya ‘sinkronisitas’, meaningful coincidence, kebetulan sarat makna.
Menyongsong Kisah Kesementaraan
Pada tahun-tahun menjelang kematiannya di Jenewa, Swiss, 14 Juni 1986, dengan sepasang mata yang mulai membuta, Borges agaknya semakin meneguhkan kesenyapan dirinya di puncak ketenaran. Penyair yang mengeja semesta sebagai fiksi: serpihan-serpihan makna dari mimpi yang menggebalau sunyi. Sosok melankolis yang hendak memikul sendiri perihnya belasungkawa. Baris sajak "The Suicide": “Aku akan mati dan, bersamaku, beban semesta yang tak tertanggungkan… Kini kupandang matahari terbenam yang penghabisan. Kusimak kicau burung yang terakhir. Kuwariskan ketiadaan kepada entah.” Selaksa niat tulus menyongsong kisah kesementaraan ketika manusia ternyata hanyalah sebutir pasir di keluasan jagat raya. Rasa insaf untuk bersaksi atas nama fiksi, memasuki labirin gaib kefanaan.
0 komentar:
Posting Komentar