Mimpi, Waktu, dan Metafora
“Sebaiknya-baiknya penceritaan realita, ialah dengan alegori, metafora -- imaji-imaji yang mengalir seperti mimpi, tak nyata, di luar yang nyata….”
-- Nukila Amal, Cala Ibi --
DALAM autobiografinya yang berjudul Memories, Dreams, Reflections, Carl Gustav Jung, pendiri mazhab Psikologi Analitis, menuliskan salah satu mimpinya.
Waktu itu almanak menunjuk angka 1912. Jung bermimpi tengah berada di balkon sebuah gedung teater Italia yang megah, duduk di kursi emas zaman Renaisans, dan di hadapannya teronggok meja yang sangat indah. Dia duduk ditemani anak-anaknya, menerawang ke kejauhan. Tiba-tiba seekor burung, antara camar atau merpati, muncul lantas hinggap di atas meja. Tak lama kemudian burung itu berubah menjadi seorang gadis kecil dengan rambut pirang keemasan. Setelah sejenak bermain bersama anak-anaknya, berlarian di antara tiang-tiang gedung, gadis kecil itu menghampirinya, melingkarkan lengan ke lehernya. Lalu, gadis kecil itu menghilang; sebagai gantinya seekor burung merpati muncul lagi dan berkata lirih dalam suara manusia. “Hanya pada jam-jam pertama di malam hari aku bisa mengubah diriku menjadi manusia, yaitu saat merpati jantan sedang sibuk mengurus dua belas mayat manusia.”
Pada sekian risalahnya, Jung mengaitkan mimpi dengan alam ketidaksadaran, suatu ranah di dalam diri manusia yang memendam banyak misteri. Mimpi menunjukkan betapa masa lalu tak menghilang begitu saja; ia terus hidup, bergeliat mengikuti manusia. Di dalam mimpi kita diterkam oleh imaji-imaji ganjil yang menakjubkan, yang patah-patah dan tak utuh, yang menautkan kembali diri kita dengan arketipe alam semesta, menyediakan pintu masuk ke dalam apa yang oleh Jung disebut “malam kosmis”. Malam kosmis: malam saat bayang-bayang yang rebah di atas tanah bangkit hanya untuk menyelusup ke dalam kegelapan; malam saat kobaran api padam ditelan kabut tebal.
Mimpi adalah jelujuran imaji, kerlip pelita di tengah belantara yang memandu kita membayangkan sebuah labirin tak berujung (atau barangkali gua tempat tujuh pemuda dan seekor anjing tertidur selama tiga ratus tahun lebih, sebagaimana yang dituturkan oleh kitab suci). Labirin yang tercetus dari ketidaksadaran kolektif di mana pelbagai simbol muncul sebagai perwujudan lingkaran magis yang menyatukan jiwa manusia dengan roh kosmos. Di dalam labirin itu ada bekas gerusan waktu, juga tilas manusia pendahulu, yang terukir abadi meski samar. Dan selalu ada saat ketika kita, tanpa alasan yang melulu logis, sengaja meretas jalan yang bisa membawa kita masuk ke dalam labirin itu, demi mengenali kembali torehan zaman silam. Goethe: “Kini biarkan aku membuka lebar pintu gerbang masa lalu/Di mana jejak-jejak manusia pernah tergurat di sana.” Dengan mimpi, dengan ketidaksadaran, kita, mencuplik Jung, “berhubungan dengan tanah mistis kematian, tanah para nenek moyang”.
Manusia, bagaimanapun, tidak semata-mata digerakkan oleh kesadaran. Ada retakan-retakan yang merongrong bangunan nalar yang padu, menyodorkan ragam kisah berbentuk dongeng dan mite. Ketidaksadaran mencakup aras individu sekaligus aras kolektif. Maka di dalam diri seseorang, selain fantasi (yang senantiasa berjalinan dengan ketidaksadaran pribadi) berkecamuk pula arketipe (yang merupakan fantasi kolektif). Mite adalah ihwal yang mekar dari arketipe itu, ceruk yang menyimpan hikayat para leluhur. Mungkin itulah sebabnya kita kerap memergoki golongan, golongan pengarang misalnya, yang di samping tertawan oleh keruwetan realitas, terpesona oleh keajaiban mitologi; tukang cerita yang menyusupkan selaksa jiwa azali ke dalam kisah-kisahnya, serupa cenayang yang ngotot ingin membangunkan sesosok mayat dari kematian yang panjang. Alhasil, kita tidak cuma berhadapan dengan jenis penceritaan berjuluk realisme, tetapi juga cerita yang menggaungkan masa silam yang jauh, yang menggotong remah-remah waktu purba, sebagai isbat atas drama tak sadar psike.
***
SEJUMLAH sufi pernah mengibaratkan penciptaan alam semesta dengan kemunculan mimpi. Tamsil semacam itu memperlihatkan keteguhan untuk melihat dunia sebagai sehampar ruang yang tak nyata. Jagat raya hanyalah secebis ilusi. Kesejatian milik Tuhan semata, dan selebihnya adalah maya. Karena dunia begitu fana, sedangkan manusia pada hakikatnya merupakan pantulan nur Tuhan yang digelayuti cinta dan damba akan peleburan dengan Sang Kekasih, maka banyak sufi yang menulis puisi, sajak mistis yang digelorakan oleh metafora, agar sanggup menuturkan kecamuk spiritual yang paradoks dan taksa namun sekaligus subtil dan kaya makna.
Puisi sesungguhnya merupakan salah satu upaya untuk mengabadikan sekeping momen ketika seorang sufi mabuk mencecap anggur rohani. Ekstase boleh jadi berporos pada ledakan momen di mana seluruh zarah waktu mengumpul di dalam kekinian sang sufi, di mana diri sang sufi adalah lintasan dari segenap peristiwa yang cuma menyisakan tilas yang gamang, kelimun tanda yang melayang bagaikan arakan mega di bawah singgasana kudus Tuhan. Waktu, bagi Sahal bin Abdullah at-Tustari, adalah ingatan atas masa silam abadi dan keyakinan atas masa depan abadi yang tersedot ke dalam momen masa kini. Maka, kaum sufi boleh dibilang lebih mengutamakan pemihakan atas keberadaan waktu ketimbang wujud ruang. Waktulah yang kekal, karena pada akhirnya semua jejak (jejak kaki manusia dan kawanan hewan dari kafilah yang menempuh jalan sunyi) akan lenyap disapu angin. Kita binasa di dalam waktu, dan ketika kita binasa yang tertinggal hanyalah Tuhan. Itu sebabnya para penganut mazhab Zahiri menerjemahkan waktu sebagai sifat sejati Tuhan.
Di tebing meditasi yang lain, kaum mistikus memuja kasunyatan, sebuah geronggang tempat kehadiran tak ditentukan oleh hukum sebab-akibat seperti yang lazim ditegaskan para ahli fisika modern. Tak ada tautologi. Para rahib Zen, kita tahu, sering berbicara tentang hal-hal besar dengan menggunakan bahasa ringan, seliweran alegori yang tak berniat memberondongkan sederet argumen. Sewaktu ditanya tentang Buddha, T’ung-shan, seorang guru Zen, menjawab “Tiga pon rami!” -- suatu jawaban yang tak definitif. Dalam koan para guru Zen berhamburan teka-teki penuh paradoks, yang dengannya pengalaman mistik tertuturkan dan kebenaran logis menjadi sesuatu yang mustahil. Sementara dalam puisi pendek haiku, kita menemukan ikhtiar untuk menyentuh kenyataan secara intim, segugus pemahaman yang terselenggara melalui pengalaman indrawi sonder hiruk-pikuk konsep. Haiku dan koan secara semiotis mengukuhkan hubungan virtual atau paradigmatik di antara penanda-penanda -- bukan hubungan faktual atau sintagmatik -- di mana imajinasi dan metafora memainkan peran utama.
Selalu ada sikap yang ringan hati, memang. Laku yang tak terbebani oleh segala impian muskil perihal kepastian dan kemutlakan. Ada semacam nubuat tentang riwayat umat manusia: bahwa tak ada orang yang sepenuhnya bijaksana dan mengetahui secara sempurna seluruh renik kehidupan; di ujung pengetahuan yang ada melulu kenisbian dan kekosongan, bukan keajekan dan presisi setumpuk persepsi. Kita dihantui oleh mimpi, gebalau citraan yang terpantul dari selembar cermin semesta, yang membuat kita insaf, atau sedih, atas takdir kita sebagai makhluk yang semata-mata berenang di samudra tanda, tak mampu meraih kekekalan zat bernama waktu, tak kuasa menebak peristiwa yang bakal terjadi dalam bentangan masa yang tak bisa diduga ujungnya. Waktu adalah batas akhir yang tak terengkuh dari suatu rangkaian yang tak terhingga. Tetapi, barangkali justru karena itu kita dapat menikmati hidup. Kita menjadi leluasa untuk berkhayal dan mencipta, untuk mengolah imajinasi, suatu kekuatan ajaib yang tak dimiliki makhluk lain, daya pikir yang kerap membikin sebagian orang gentar lantaran dampaknya yang sungguh dahsyat bagi pembentukan kebudayaan dan peradaban.
Hidup dan mimpi, dua perkara yang benar-benar tak terpisahkan. Jorge Luis Borges dalam Other Inquisitions mengutip Arthur Schopenhauer yang mewartakan bahwa “hidup dan mimpi adalah halaman-halaman dari sebuah buku yang sama; ketika kita membacanya secara berurutan maka itulah hidup, tetapi sewaktu kita membacanya secara acak maka itulah mimpi.” Kita terayun-ayun di antara kepekatan mimpi dan keriuhan hidup. Namun keriuhan hidup, gemuruh realita, biasanya berlumuran ihwal yang banal. “Orang yang ada dalam keadaan terbangun memiliki sebuah dunia yang amat umum, sebaliknya orang yang tidur memasuki dunia pribadinya,” begitulah peringatan Heraclitus.
Bersama John Keats, kita menjadi mafhum bahwa kita tak ubahnya Adam yang berkat imajinasi menemukan apa yang berkecambah di dalam mimpi menjadi kenyataan saat terbangun dari tidur. “The imagination,” tulisnya dalam “Letter to Benyamin Bailey”, surat bertarikh 22 November 1817 yang dinukil Charles E. Bressler dalam Literary Criticism, “may be compared to Adam’s dream -- he awoke and found it truth.” Mimpi, dan imajinasi, menjadikan waktu bercecabang, berkelindan dan memecah laksana ombak, dan di saat itulah metafora dan alegori yang indah bermunculan. Di situ, meminjam larik sajak “Bintang Pagi” Goenawan Mohamad, “kata-kata berjalan, sejak malam/dalam tidur: somnambulis pelan, di sayap mega, telanjang/ke arah tanjung/yang kadang menghilang”. Setiap kata dan pikiran manusia mengembara sampai ke sudut-sudut yang terjauh dan menyisakan rentangan jejak yang maya dan fana. Sebab dunia, sebagaimana maklumat ayat kitab suci, tak lebih dari ilusi belaka, tipu daya. Panggung tempat kita bermain-main dan bersenda gurau, melepas gelak tawa.
0 komentar:
Posting Komentar