Manusia Koran Budi Ubrux
BERDIRI di hadapan lukisan, jarak terkadang membangkitkan tipuan visual; menggelembungkan kekacauan optis yang menggelikan. Maka maafkanlah jika saya, pada jarak sekian meter, mulanya menyangka bahwa sebagian besar sosok yang tertoreh di kanvas lukisan dalam pameran tunggal bertajuk “Transisi” di Bentara Budaya Yogyakarta 18 – 23 Desember 2002, adalah segerombolan mumi. Barulah pada jarak satu meter, bahkan tiga puluh sentimeter, saya insaf bahwa sosok-sosok itu adalah orang-orang yang berbalut lembaran koran.
Saya terkecoh. Tetapi ternyata rasa terkecoh itu hanyalah awal dari satu sengkarut persoalan. Sebab setelah itu saya terusik: apa maksud semua ini?
Ya, apa hakikat dari tubuh-tubuh terbungkus koran di jajaran kanvas itu? Jawaban bahwa apa yang diupayakan Budi “Ubrux” Haryono -- pelukis kelahiran Yogyakarta, 22 Desember 1968 -- adalah bukti nyata tentang betapa seniman memang selalu berurusan dengan eksperimen rupa, tentu bukanlah sebuah jawaban yang memuaskan. Sebab, sudah menjadi semacam takdir seniman untuk menyelenggarakan eksperimen rupa semacam itu. Lagi pula, orang bisa saja bersepakat dengan ucapan pelukis Basuki Resobowo, sebagaimana dikutip Sanento Yuliman dalam esai “Seni Lukis Indonesia Baru”, bahwa demi memuaskan cita rasa visual yang diantarkan oleh garis, warna dan tekstur kita “tidak usah memikirkan terlebih dahulu bentuk apa yang dimaksud”. Khalayak juga dapat berpegang pada fatwa kaum posmodernis, bahwa yang menggugah mata, yang menggebyar ihwal yang merengkuh kita ke dalam keasyikan efek-efek sensoris, itulah yang lebih utama. Theater of the senses, kata Antonin Artaud. Atau, istilah Susan Sontag, the erotics of art.
Tetapi seni, kita tahu, setelah menyuguhkan kenikmatan sensoris, seringkali beranjak dengan serangkai hasutan buat politik pemaknaan. Khalayak selamanya tertantang untuk usil menggelontorkan sejumlah arti dalam permainan tafsir yang ringan hati.
***
Tubuh, dalam seni, pada galibnya merupakan sebuah elemen penting bagi proyeksi artistik, menjadi noktah diskursif di mana ikhtiar penciptaan semesta makna baru terbabarkan. Kita pun lalu ingat lukisan-lukisan kubisme Pablo Picasso, yang membawakan wujud-wujud geometris tubuh yang rumpang, lorong tempat hasrat anti-representasional membuncah. Dan bisa jadi juga gebrakan Picasso itu merupakan cemooh terhadap perilaku menjijikkan teknologi yang menggerus aura magis tubuh manusia (jangan lupa pernyataan teoretikus seni Walter Benyamin, bahwa fotografi hasil eksplorasi teknologi yang menandai era modernitas telah menghadirkan sebuah corak seni baru, seni post-auratik).
Pada George Grosz, kita bahkan menemukan sebercak pesimisme yang masygul terhadap tubuh. Tubuh yang telah kehilangan amanat luhur mengenai kekudusan manusia. Karena toh manusia juga kuasa berperangai layaknya binatang. Di Eropa, ketika Grosz mencipta karya-karya grafis, meletus Perang Dunia I, dengan sejumlah kebiadaban dan melankoli. Humanisme memang kemudian menjadi satu gagasan omong kosong. Itu sebabnya, berhentilah mendedahkan hikayat tentang kepahlawanan manusia, lantaran ihwal itu hanya mensahihkan dalih kotor setiap puak manusia untuk berseteru mengumbar keangkuhan sebagai subjek sejarah.
Demikianlah, karya seni lantas tak bisa dilepaskan dari persentuhan seniman dengan gejolak sosial yang melingkunginya. Karya seni menyusupkan keintiman arketipe seniman terhadap peristiwa sejarah yang menelikung kesadaran purbanya. Dari Martin Heidegger mengalir pembenaran akan soal itu: karya seni merupakan “pameran” (Aufstellung) dari sebuah dunia. Penekanan Heidegger atas gagasan tentang “pameran” searti dengan istilah “meletakkan” (putting on) satu pertunjukan di dalam museum atau galeri misalnya, di mana fungsi karya seni ialah menyusun dan mengkonstitusikan bagan-bagan yang mendefinisikan dunia historis. Seni mewadahi potensi manusia untuk merumuskan kriteria pengalamannya tentang dunia, yang mengabarkan cara untuk membedakan antara kebenaran dan kekeliruan dari kisah-kisah sejarah (Gianni Vattimo, 1988, The End of Modernity, London: Polity Press, 61). Lalu, dengan dalil seni semacam itu, bagaimana sebaiknya memperlakukan lukisan-lukisan Budi Ubrux?
***
Zaman kini adalah zaman yang tak mengizinkan manusia untuk hengkang dari lingkaran peredaran informasi. Teknologi sistem informasi telah membiakkan sejenis iman bahwa alangkah tak senonoh apabila manusia enggan mengakui pentingnya media massa, koran khususnya. Dan, Budi Ubrux sudah pasti tengah merayakan semesta tubuh yang tak kuasa mendobrak kungkungan berita-berita yang berseliweran dan terekam lewat koran itu. Onggokan-onggokan tubuh yang ditakrifkan oleh teks media yang dicomot dari ceruk-ceruk realitas sosial. Sejak peristiwa politik, kriminalitas, ekonomi, hingga tawaran gemerlap iklan. Maka, sosok-sosok itu -- juga properti-properti yang berserak di sekeliling, seperti kursi, meja, cangkir, dasi, bendera, botol minuman, becak, topi militer, burung garuda lambang negara – pun hadir laksana lautan koran belaka.
Namun, adakah yang mampu menjamin bahwa fakta yang diwartakan koran merupakan kebenaran? Ah, Budi Ubrux agaknya hendak memaklumatkan satu wanti-wanti bahwa kenyataan sosial benar-benar hanyalah sekelimun makna taksa yang tercetus dari syak wasangka. Artinya, pergerakan media telah menempatkan teks-teks berita menjadi poros tempat kita hanya sanggup mereka-reka kejadian yang sejati. Jean Baudrillard mengingatkan, zaman mutakhir melalui aneka media meruahkan begitu banyak informasi, tetapi secara bersamaan membuat orang gagap lantaran makna kian terkikis. Maka, tak ada lagi yang dapat disebut sebagai kenyataan, karena ruang komunikasi sosial telah tergantikan oleh teks-teks berita: gosip murahan para selebritas, rumor politik, rayuan iklan yang memacu gairah hidup konsumtif, penguasa yang tak malu-malu melulu menipu rakyat, yang semuanya itu berpusar pada hukum aktualitas berita. Sehingga, tak heran jika berita hari ini esoknya boleh jadi telah menjelma menjadi deretan aksara yang basi, tumpukan sampah kata-kata.
Tetapi sebenarnya kertas-kertas koran yang meringkus sekujur anggota badan sosok-sosok itu juga dapat ditafsirkan sebagai celah untuk melacak apa yang oleh Roland Barthes disebut “kode hermeneutik”. Benar, teks-teks itu, terutama judul berita, telah menjadi jalan untuk mengekspresikan perasaan, gema suara yang dipertaruhkan untuk menguji seberapa besar sesungguhnya kita, yang menonton lukisan-lukisan itu, mampu mengolah rasa empati kita, yang boleh jadi berujung pada satu jawaban, atau malah teka-teki, dari imaji-imaji yang terhambur di dalam lukisan. Pada Monolog Kesenjangan (2002) misalnya, duduk berjejer santai enam sosok dengan becak yang terpacak di pojok kanan. Akuilah, becak itu merupakan simbol kemiskinan rakyat kecil. Ada narasi sosial yang terkisahkan di situ: tepat di bawah dagu sosok paling kiri terpampang gambar Akbar Tanjung sedang mengusap hidungnya yang oleh salah satu media nasional pernah diparodikan sebagai hidung Pinokio itu, dan di bawahnya berbaris kata-kata “Mulai Digoyang”. Pada sosok kedua dari kanan, di bagian telinga kirinya tersembul tajuk berita tentang inflasi. Sedangkan pada sosok paling kanan, di bagian dada tertulis “Harapan yang Tersisa”. Masih adakah harapan yang tersisa bagi rakyat miskin di tengah keterpurukan ekonomi dan polah penguasa yang bangsat, itulah kegelisahan yang dapat kita rangkai dari tiga judul berita itu.
Pada Membatu (2002), tabiat buruk para elite politik bahkan lebih bergaung keras: puluhan kursi koran, kursi-kursi di gedung parlemen kita rupanya, hanya diisi oleh tiga sosok, satu di depan, sisanya di saf belakang. Di kursi kosong sebelah kiri, uang pecahan 100 ribu rupiah tumpang-tindih dengan selembar mata uang dolar. Suasana yang lengang, posisi duduk yang membatu dengan kepala mendongak ke atas, uang-uang menggiurkan yang beredar dalam jumlah besar, membuat kita kian percaya bahwa sungguh muskil untuk mengharapkan keseriusan insan-insan parlemen dalam menuntaskan persoalan rakyat.
Tetapi, keterasingan wong cilik dapat juga disebabkan oleh jagat lain bernama kehidupan modern. Who am I? (2002) mempertontonkan seorang “udik” dengan tubuh manusia normal, bebas dari balutan koran, berkostum tradisional yang biasa dikenakan wayang golek. Banyak orang yang mengerumuninya. Salah satunya sosok yang kepalanya terbungkus sobekan koran yang memuat gambar perempuan bule setengah bugil. Ada pula sosok yang di lengan kiri bagian belakang tercatat penggalan alamat situs internet. Manusia “udik” yang dihidupi oleh tradisi itu jelas merasa asing dengan situasi global yang telah menyeragamkan orang-orang lain di sekitarnya, sampai-sampai dia bertanya, “Siapa saya?”.
***
Sosok-sosok Budi Ubrux adalah rombongan orang yang memakzulkan konsepsi psikologis Sigmund Freud tentang manusia. Sosok-sosok yang dingin, sonder libido. Figur yang jalan darahnya tak tersusupi oleh hawa, memulung istilah Paul Cézanne, “sensasi”. Padahal figur, urai Gilles Deleuze dalam “Nomad Philosophy of Art” dengan mengikuti Cézanne, semestinya tampil selaku sosok berperasaan yang digelayuti sensasi, yang getaran gugupnya langsung menyengat daging (Gene H. Blocker dan Jennifer M. Jeffers [eds.], 1999, Contextualizing Aesthetics: From Plato to Lyotard, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company, 230).
Sosok-sosok itu ibarat tamu aneh yang menggebrak pintu rumah persepsi saya yang selama ini mengawetkan pandangan estetis tentang manusia dengan gestur tubuh yang lazim. Manusia-manusia dengan ekspresi raut muka yang riang atau bengis, aroma badan yang harum atau busuk, di mana prinsip-prinsip cita rasa terejawantahkan dalam wujud, menukil kalimat esai “Of the Standard of Taste” karya David Hume, “kekaguman abadi, yang tertuju kepada karya-karya itu, yang telah terus menghidupkan semua gurauan mode dan fashion, seluruh kesalahan dari ketidakacuhan dan iri hati” (Gene H. Blocker dan Jennifer M. Jeffers [eds.], ibid., 78).
Memang, sosok-sosok itu mustahil dapat hadir sebagai sosok nyata yang bertamu ke rumah kita. Bagaimanapun sosok-sosok itu hanya penanda yang tak akan kuasa tiba pada petanda yang ajek, pada kebenaran. Kalaupun kebenaran itu ada, ia tak lebih dari kebenaran yang direpresentasi. Gambar khayali yang hadir sebagai efek dari hentakan penandaan atas kenyataan. Dengan begitu, seniman sekadar, kata Jacques Derrida dalam The Truth in Painting (Yasraf Amir Piliang, 1999, Hiper-Realitas Kebudayaan, Yogyakarta: LKiS, 183), “ ... menjanjikan untuk membuka selubung kebenaran dalam lukisan ... menggunakan metafora gambar dalam diskursus, atau ia menjadi satu diskursus yang secara diam-diam beroperasi di dalam ruang sebuah lukisan”.
Kendati demikian, orang masih absah berharap bisa akrab dengan sosok-sosok itu. Di pameran berikutnya, berdiri di hadapan sosok-sosok yang serupa, semoga hilang sudah perasaan asing dari diri saya. Namun, apabila itu tidak terjadi, maka terpaksa saya harus menyadur aforisme Nietzsche: “Seni berdiri di depan pintu: dari mana datangnya yang paling aneh dari semua tamu?”. ***
0 komentar:
Posting Komentar