Obituari: Roedjito, 1932-2003
Semesta Sunyi Mbah Djito
HAMPIR enam puluh menit saya berdiri termangu, sesekali memicingkan mata, sesekali menggeleng-gelengkan kepala, memandangi sketsa-sketsa yang berjumlah sekitar seratus
sembilan puluh tujuh itu. Ada setangkup rasa takjub, atau mungkin rasa heran,
berkecamuk: sketsa-sketsa yang seperti mengingatkan saya pada butir-butir pasir di pantai, pada biji-biji jagung yang luput dari sergapan paruh burung, dan pada gulungan benang yang kusut tatkala terhambur di lantai.
Hampir enam puluh menit saya mengitari ruangan. Bolak-balik dari ujung yang satu ke ujung yang lain, tanpa rasa jemu. Terkadang saya istirah, duduk sebentar di bangku sebelah utara ruangan, namun dengan mata yang tetap tekun menyimak. Tiba-tiba saya mendesah: mengapa seseorang mesti menumpahkan jalinan garis yang ruwet dan titik-titik dengan ukuran hanya beberapa sentimeter di lembaran-lembaran kertas? Adakah orang itu sekadar bermain-main dengan pena, dan sesuka hati menggoreskan garis dan titik? Ataukah ada sejenis ungkapan hati yang hendak disampaikan, sesuatu yang kelak dipahami banyak orang sebagai seni?
Di atas pintu masuk gedung Bentara Budaya Yogyakarta membentang spanduk warna putih sepanjang dua meter lebih. Di situ tergurat, dengan cat hitam, sebaris kalimat, sebuah tajuk acara, “Gelar Karya Roedjito, 22-28 Agustus 2003”. Saya membatin: Ah, ini pameran seni, karena itu jangan pernah gegabah memberi tafsir.
Roedjito, samar-samar saya seperti pernah membaca nama ini. Benar, saya ingat, nama Roedjito pernah saya baca saat menonton Puisi Tak Terkuburkan, film Garin Nugroho. Di film itu nama Roedjito tertulis sebagai art director.
Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 21 Juni 1932, Mbah Djito -- begitulah nama sapaan Roedjito -- bersama Oesman Effendi, Zaini, dan Nashar, menggagas berdirinya Jurusan Seni Rupa Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta [LPKJ, kini IKJ]. Dialah – yang setamat SMA sempat kuliah selama tahun 1954-1957 di Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia, dan East West Centre Hawaii, Amerika Serikat, pada tahun 1970 -- sosok penata artistik dan skenografer yang ada di balik pentas seniman-seniman besar Indonesia, semisal W.S. Rendra, Putu Wijaya, Arifin C Noer, Teguh Karya, Sardono W Kusumo, Gusmiati Suid, Farida Utoyo, dan lain sebagainya.
Di luar, sementara itu, matahari mulai lingsir. Langit musim kemarau yang bersih tanpa gumpalan awan mendung bagai kertas merah jingga yang pelan diluluh warna hitam. Gelap membayang. Saya bayangkan seekor burung melintas. Seekor burung dalam novel Mantiq ut-Tair (Musyawarah Burung) karya penyair dan sufi termasyhur Fariduddin Attar, yang kepak sayapnya membawa desir perasaan rindu akan Tuhan. Atau, seekor burung yang terpisah dari rombongannya saat sekelompok bocah usil menggusah mereka, dan karena bingung kemudian tersesat di dalam sketsa.
Memang, di antara karya-karya Mbah Djito ada sketsa seekor burung, yang berukuran kurang lebih tiga sentimeter, seperti sedang bergegas untuk lindap dari pandangan. Ada sejumlah sketsa, kurang lebih sepuluh, dengan kertas yang mulai buram dan tinta yang memudar, yang agaknya dibikin lebih awal dari sketsa-sketsa lainnya, yang tidak semata-mata hadir sebagai jalinan garis dan titik. Maka, orang pun bisa menyaksikan sketsa seekor binatang yang berpotongan seperti sapi namun berbelalai aneh mirip kincir angin. Ada juga sosok-sosok manusia berbadan besar dalam posisi memunggungi, menolehkan kepala dengan pandangan yang tak acuh. Gambar-gambar ini, entah benda mati atau makhluk hidup, bergerak pada dua tataran: kendati terdedahkan dalam bentuk-bentuk objektif sebagaimana yang dikenal banyak orang, namun sengaja dipiuh hingga menjadi figur-figur karikatural, bahkan tak lazim, sebagaimana yang tampak pada sketsa-sketsa binatang dan orang-orang berbadan besar yang menoleh acuh tak acuh itu; dan, kedua, meski menunjuk ke figur lazim namun seakan-akan tampil untuk mengabarkan kesunyian. Ini bisa dilihat pada gambar burung tersebut.
***
WACANA tentang ruang agaknya sama tuanya dengan wacana perihal waktu. Sejak ribuan tahun silam orang sudah mulai meributkan soal ruang. Stephen Hawking bahkan berani memastikan bahwa “orang tidak dapat berbicara mengenai segala peristiwa dalam jagat raya tanpa memikirkan ruang dan waktu” (Stephen Hawking, 1988, A Brief History of Time, New York: Bantam Books, 36).
Kita, sang makhluk, rupanya tak kuasa menolak geometri. Mungkin karena Tuhan sendiri tidak pernah punya niat untuk menghentikan kegetolan bermain-main dengan geometri. “God ever geometricized,” kata Plato. Tuhan selalu sibuk dengan geometri.
Maka, pernah ada masanya orang dibikin terpesona oleh gagasan Isaac Newton mengenai ruang absolut. Geometri Euclides, yang mendalilkan bahwa satu garis lurus sudah cukup mengantarkan kesinambungan beberapa garis lurus, tak syak, memberi sumbangan besar kepada hukum Newton tersebut. Sementara dari Albert Einstein, orang dapat menyimak gagasan tentang ruang lengkung yang terdistorsi dan efek gravitasi, yang mencoba mendedahkan ketidakpastian posisi benda.
Namun, diskusi tentang ruang tidak hanya dimonopoli kalangan saintis. Dalam seni rupa kita juga acap menjumpai kengototan untuk menggelontorkan keragaman persepsi atas ruang. Paling tidak, karya-karya seniman konseptual Prancis Daniel Buren -- semisal instalasi On Two Levels with Two Colours yang menyepuhkan garis-garis yang tegak lurus dengan lantai pada dua ruangan galeri yang bersebelahan, dengan ruang yang satu lebih tinggi dari ruang yang lain -- adalah contoh bagus tentang bagaimana visi geometris terpaparkan dalam seni. Hal yang sama juga bisa ditemui pada lukisan-lukisan Piet Mondrian.
Tetapi, jika Mondrian dan Buren lebih sering terdorong untuk bergerak dalam pusaran hasrat mengungkai visualisasi ruang yang bertumpu pada sejenis rasionalitas geometris yang tertib milik kaum modernis, yang begitu menggandrungi simetri dan perspektif yang terukur pasti, lantas tidakkah kita ingin menengok yang lain?
Ya, tengoklah sketsa-sketsa Mbah Djito, yang tidak dicantumi judul dan tanggal penciptaan itu. Bidang-bidang putih yang menyimpan kekosongan sebagai latar, dengan goresan atau sapuan hitam yang kadang samar dan kadang pekat. Inilah sketsa-sketsa itu: sebentuk torso tanpa kepala, juga tanpa tangan dan kaki, yang berlumuran huruf-huruf, mungkin tatahan rajah; garis-garis berujung runcing yang membujur seperti yang kerap tampak di monitor denyut jantung; sebentuk huruf H dalam aksara Arab yang dibuncahi kelimunan titik hitam dan menyisakan tarikan-tarikan acak berwarna putih, yang menyarankan banyak gambar, salah satunya sekilas mirip janin yang meringkuk tenang di rahim ibu; sebuah ruang dengan empat labirin yang luasnya beragam….
Kekosongan Mbah Djito sekaligus menyodorkan kepenuhan. Ruang ternyata tidak hanya sebagai bidang yang melulu dipadati imbuhan garis vertikal dan horizontal. Kode-kode visual dibeber menjadi suatu sapuan spiritual yang berbisik lirih, puisi tentang pencarian yang sublim terhadap kiblat dari segala keresahan eksistensial manusia.
***
SYAHDAN, pelukis kini, menukil Leon Battista Alberti, tidak lagi mengacu kepada “imaji ideal di dalam jiwa pelukis”, melainkan “imaji optis di dalam matanya sendiri”. (Scott Lash, 1991, Sociology of Postmodernism, London and New York: Routledge, 34). Seni telah merayakan kematian jiwa pelukis, dan lebih memilih bermain-main dengan theatre of the senses Antonin Artaud. Kanvas yang memajang komposisi rupa yang menggoda mata, efek sensoris yang mengharu-biru.
Tetapi pada Mbah Djito, boleh jadi ihwal itu tidak berlaku. Sebab, keasyikan sensoris macam apa yang bisa didapatkan dari pola garis dan titik yang silang sengkarut itu? Alih-alih menghibur mata, sketsa-sektsa Mbah Djito seolah-olah lebih berniat mengajak orang untuk merenung, menyisih sebentar dari hiruk-pikuk kehidupan; menggebyarkan hasrat untuk menggali apa yang bisa mempertautkan manusia dengan zat yang kudus. Sebagaimana yang ditamsilkan Chin Nung, pelukis tersohor Cina: “Lukislah dahan dengan baik dan engkau akan mendengar desir angin.”
***
JUMAT, 26 September 2003, Mbah Djito menutup mata, berpulang ke Sang Pencipta. Penyakit kanker hati telah membangun semesta sunyi yang lain di tubuhnya. Dan, kita pun semakin tidak kuasa menampik dukacita khas manusia yang sudah menjadi semacam takdir. Kita digulung oleh hikayat kesedihan yang terpantul dari melankolia penyair Hölderlin: “Pada batas tertinggi dukacita, pada dasarnya tak ada yang tertinggal selain kondisi waktu dan ruang”.
Di ranah pusaran hal-ihwal, segalanya menyerpih menjadi debu; unggunan tanda yang terbuhul alunan irama dawai Tuhan. “Kita ibarat dawai yang dimainkan Tuhan.” Adakah ungkapan lain yang mampu menggugurkan dalil sufi terkenal Jalaluddin Rumi itu? Adakah soal lain yang dapat dihaturkan manusia selain mengakui keharusan untuk tunduk kepada amanat luhur tentang kefanaan ruang dan waktu?
Garis dan titik dalam sketsa-sketsa itu perlahan menjelma menjadi tebaran butir-butir pasir di bibir pantai, yang menyimpan sejenak jejak manusia sebelum tergerus oleh jilatan lidah ombak. Dan, matahari terus bersinar, sebagaimana angin yang tak kunjung lelah berembus mengelus dedaunan. Sedangkan di kaki langit yang terjauh, seekor burung terlihat seperti noktah kecil yang daif, melesat menuju surga Tuhan. Al-fatihah….
0 komentar:
Posting Komentar